Jangan Sampai Enrique Seperti Guardiola

Lima tahun silam, Barcelona harus rela ditinggalkan oleh salah satu pelatih terbaiknya, Pep Guardiola. Dengan 14 trofi dalam empat musim, karir singkat Guardiola membuat dirinya kini berstatus sebagai pelatih tersukses sepanjang sejarah Barcelona--melewati raihan mentor dan mantan pelatihnya, Johan Cruyff. Kehilangan tersebut pun tentu masuk sebagai kehilangan terbesar Barcelona.

Setelah era Tito Vilanova dan Gerardo Martino yang cenderung tidak se-wah Guardiola, Barcelona kini tengah diasuh oleh pelatih yang mungkin mengkuti jejaknya. Adalah mantan rekan setim Guardiola, Luis Enrique, yang kini duduk sebagai pelatih El Barca. Dan, sebagaimana ketika Guardiola dulu melatih Barcelona, Enrique pun kini tengah menulis ceritanya sendiri di buku sejarah klub Catalunya tersebut.

berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion,

Dua musim sudah Enrique kini melatih Barca--kini memasuki musim ketiganya di 2016/17. Dibawah asuhan mantan kapten mereka tersebut, Barcelona sudah memenangkan semua trofi yang mungkin mereka menangkan. Bahkan, pada tahun 2015, Enrique nyaris menyamai raihan Guardiola dengan memenangkan enam trofi pada satu tahun kalender. Sayang, kekalahan mereka di Piala Super Spanyol membuat Enrique 'hanya' berhasil mencatatkan lima trofi saja pada tahun itu.

Ada beberapa perbedaan signifikan antara era kepelatihan Guardiola dan Enrique. Bila pada era Guardiola seakan El Barca memiliki tim yang bisa dibilang merupakan 'dasar' dari apa yang mereka mainkan, maka tidak dengan Enrique. Pria kelahiran Asturias tersebut kerap membongkar-pasang lineup-nya di hampir setiap pertandingan. Meskipun sudah mulai jarang ia lakukan akhir-akhir ini, Enrique kerap mengundang kritik--dan hasil kurang maksimal karena kebiasaannya ini. Memang, itu adalah untuk mengakomodir taktiknya, tetapi di sisi lain itu juga menyebabkan mudahnya Barcelona kehilangan momentum dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya.

Meskipun secara taktis dan kebijakan terhadap tim bisa dibilang berbeda, namun ada satu hal unik yang membuat Guardiola dan Enrique memiliki satu kesamaan. Keduanya tidak pernah memperpanjang kontrak lebih dari satu musim. Hal ini memang meminimalisir kerugian ekonomi bila kelak salah satu dari keduanya dipecat di tengah jalannya musim. Namun, pada akhirnya Guardiola pergi karena kontraknya habis pada tahun 2012 silam.

Dilema untuk pergi mungkin kini dialami oleh Enrique. Dengan kontraknya yang akan berakhir di musim panas mendatang, belum ada indikasi dari pihak klub maupun dirinya untuk memperpanjang kontraknya. Enrique mungkin mulai merasa lelah--seperti yang dialami Guardiola--dalam melatih Barcelona dan menghadapi tekanan yang ada di sekitarnya. Disaat bersamaan, penampilan Barcelona asuhan Enrique pun bisa dibilang tengah berada dalam salah satu titik terbawahnya.

Memang, mereka masih memepet Real Madrid dalam perebutan juara La Liga. Pun di Liga Champions mereka masih berlaga di babak 16 besar, begitu pula di Copa del Rey yang kini akan memasuki babak perempat final. Namun, bila melihat hasil yang mereka raih sejauh ini, mungkin ada justifikasi bahwa Enrique kini tengah jenuh berada di level teratas.

Sejak November silam, Barcelona sudah menjalani 14 pertandingan di semua ajang. Dari jumlah tersebut, Barcelona memenangkan tujuh diantaranya dan sisanya adalah lima kali seri dan dua kali kalah. Sekilas ini memang cukup baik. Namun hasil seri yang mereka raih termasuk melawan Malaga dan Real Sociedad--dua tim yang seharusnya bisa mereka kalahkan. Mereka juga kalah dari Manchester City dan dari Athletic Bilbao di leg pertama 16 besar Copa del Rey. Tentu, Barcelona seharusnya bisa lebih baik dari hasil yang mereka raih sejauh ini.

Tentu, ini tidak bisa disalahkan pada Enrique seorang. Siapa yang tahu, mungkin ia tengah memikirkan kontrak baru yang tak kunjung datang sembari menghadapi tekanan besar dalam melatih Barcelona. Hal inilah yang kemudian berpengaruh pada implementasi dan pemilihan taktiknya di lapangan. Wajar tentunya bila tekanan masif terus dirasakan Enrique mengingat sejarah Barcelona yang memang tidak pernah jauh dari kesuksesan domestik maupun kontinental.

"Ada tekanan akan permintaan yang tinggi dan aku tidak memiliki waktu istirahat yang cukup," ungkap Guardiola ketika ditanya alasannya meninggalkan Barcelona. Hal yang sama mungkin tengah dialami Enrique saat ini di Barcelona. Disinilah peran klub harus lebih besar. Dukungan lebih harus ditunjukkan oleh pihak klub pada pelatih mereka saat ini. Bila tidak, El Barca tentu bermain dengan resiko kehilangan salah satu pelatih terbaik mereka sepanjang sejarah berdirinya klub seja 1899.