di-balik-kesuksesan-besar-zidane

DI BALIK KESUKSESAN BESAR ZIDANE

Suka tidak suka, Real Madrid adalah klub pertama di era Liga Champions yang mampu back to back mengangkat trofi super prestisius antar klub Eropa. Pencapaian ini membuat sosok Zinedine Zidane langsung nangkring di level top manajer. Baru mulai mengisi pos pelatih kepala tim senior Madrid pasca Rafael Benitez dipecat awal Januari tahun silam, nyaris semua trofi sudah dia persembahkan.  

Perbedaan Madrid di bawah Zidane, saya perhatikan adalah level kebugaran pemain.  Zidane sudah pasti memiliki tim kerja yang bagus. Sepakbola adalah seni dimana setiap pekan Anda harus menghadapi satu atau dua pertandingan. Dan memiliki skuat utama atau pelapis dengan kondisi prima tentu memudahkan rencana panjang Zidane. Real Madrid adalah tim besar. Sebagai pelatih baru di era sepakbola modern, Zidane tahu dia sedang masuk di dunia penuh permainan fisik. Di sepakbola modern fisik memang menjadi hal utama. Zidane harus memastikan masalah fundamental ini sudah mendapatkan solusi. Zidane pun memilih sosok yang sudah dia kenal. Sosok terbaik.   

Adalah Antonio Pintus, pria Italia yang pernah bekerja sama dengan Zidane semasa di Juventus di bawah Marcello Lippi dua dekade silam. Selain klub Italia, sudah banyak klub yang menggunakan jasanya baik dari Inggris (Chelsea dan Sunderland)

atau Monaco dan Marseille di Perancis. Pintus memang dipercaya mampu membuat program latihan yang efektif dalam meningkatkan level kebugaran pemain. Bahkan Real Madrid pernah mendapatkan tuntutan dari Lyon perihal Pintus. Kubu Perancis mengklaim merekalah yang seharusnya mendapatkan jasa Pintus, sebelum sekarang bereuni kembali bersama Zidane. 

Ketika Zidane mendapatkan kepastian sebagai pelatih kepala Madrid, dia harus mendapatkan sosok terbaik yang bisa dipercaya mampu menyiapkan pemain dengan kondisi kebugaran prima. Sesuai julukkannya 'el latigo' yang artinya cambuk, Pintus sangat keras dalam menyiapkan fisik pemain. Pada saat pertama melihat kondisi latihan pemain Madrid, Pintus langsung membuat perubahan. Hari perdana dia bekerja di Spanyol dimulai dengan sesi latihan keseimbangan dan core. Dia membagi program latihan di lapangan dan gym. Setiap selesai latihan pagi, dia menambah sesi lari 30 menit atau beberapa sesi lari per 5K. Sementara di latihan sore, barulah Zidane lebih banyak memimpin latihan. Sejak di bawah Pellegrini, Mourinho juga Benitez, sesi latihan Madrid lebih banyak berlatih menggunakan bola. Filosofi Pintus adalah menciptakan atlet, bukan pemain bola.

Apa yang kita saksikan dengan penampilan Madrid terutama setelah tahun baru, mereka seperti bermain tanpa lelah. Serangan balik cepat dan mematikan. Pemandangan di babak kedua saat final di Cardiff kemarin cukup menggambarkan kondisi Madrid. 


MAURICIO ZBINDEN

Mauro Zbinden adalah mantan pesepakbola asal Chili yang berposisi sebagai penyerang. Ia sempat bermain PSBL Bandar Lampung sebagai pemain profesional.