BUFFON DAN JUVENTUS SEBAGAI CINTA YANG SEBENAR-BENARNYA


Oleh: Frasetya Vady Aditya

Di atas lapangan, Gianluigi Buffon adalah seorang penyendiri. Tiga, atau empat orang di depannya, cuma sesekali bertegur sapa dengannya. Kesendirian adalah momen yang selalu ia rasakan, sepanjang 90 menit di akhir pekan.

Kesendirian tak membuat Buffon merasa terpinggirkan. Juventus telah dianggapnya lebih dari sekadar rumah; sebuah tempat berteduh, berlindung, dan berkeluh kesah. Juventus adalah bagian dari bagaimana Buffon menjalani hidup. Di Juventus, janji setia telah mengikat Buffon, mungkin untuk selamanya.

Musim ini, Buffon mencatatkan sebuah rekor terhormat. Ia menjadi pemain dengan menit bermain terbanyak di Juventus. Catatan ini diraih Buffon saat Juventus menang 1-0 atas Sampdoria. Selain menjaga gawangnya tak kebobolan, setelah menit ke-65, menit bermain Buffon terakumulasi menjadi 39.681 menit. Capaian ini melampaui rekor sebelumnya atas nama Giampiero Boniperti.

Bukan Pengkhianat

Rekor menit bermain terbanyak jelas berbeda dengan rekor mencetak gol terbanyak, misalnya. Keduanya sama-sama terhormat. Tapi toh, pengkhianat sekalipun bisa mencatatkan rekor gol terbanyak, bukan?


Buffon jelas bukan pengkhianat. Padahal, pemain kelahiran 28 Januari 1978 ini bukan terlahir dari sistem pendidikan sepakbola Turin. Bukan pula Juventus yang menjadi cinta pertamanya, melainkan AC Parma. Tapi, sedahsyat apapun pesona cinta pertama, ia tak selalu setia, bukan? Selalu ada cinta kedua, ketiga, dan seterusnya. Di Juventus-lah, Buffon menemukan cinta yang sebenar-benarnya.

Kesetian yang hampir sulit untuk disaingi pesepakbola lain adalah bagaimana ia tetap berada di bawah mistar gawang kesebelasan yang terdegradasi di Serie B. Sementara itu, para bintang lainnya, memilih hijrah, bahkan ke kesebelasan rival. Kalau terang pemain seperti Zlatan Ibrahimovic dan Fabio Cannavaro dianggap sebagai "bintang", julukan yang tepat untuk Buffon barangkali adalah "galaksi", karena ia kelewat terang untuk sekadar menjadi "bintang".

Gelar yang Terlewatkan

Beban seorang penjaga gawang amatlah besar. Ia adalah tumpuan terakhir sebuah kesebelasan saat bertahan. Belum lagi ada anggapan mutlak kalau gawang kebobolan, itu adalah kesalahan kiper semata. Maka, menjadi hal yang menyebalkan kalau saat penyerang mencetak gol, orang-orang merayakannya dengan hati gembira. Sementara saat kiper clean sheet, perayaannya terasa begitu irit.

Mengawal kesebelasan sekelas Juventus, sejatinya tak memberikan keuntungan sepenuhnya untuk Buffon. Memiliki bek yang hampir sulit ditembus, bukan berarti ia mesti berleha-leha. Meski jumlah serangan ke arah gawangnya mungkin tak lebih banyak dari tim juru kunci, tapi di sinilah kemampuan Buffon dipertaruhkan. Kebobolan dari satu shot on target jelas menurunkan harga diri. 

Bersama Juventus, Buffon telah meraih tujuh gelar Serie A. Untuk ukuran pesepakbola yang berkompetisi selama 15 musim di Italia, catatan ini jelas amat impresif. Ia pun telah memenangi kompetisi lokal seperti Coppa Italia dan Supercoppa Italiana. Buffon bahkan pernah memenangi Serie B!

Namun, ada sesuatu yang kurang dari pemain sebesar Buffon; apalagi kalau bukan gelar Eropa. Bersama I Bianconeri, Buffon memang telah bermain di dua final Liga Champions. Sialnya, ia tak pernah mampu menjaga gawangnya tetap suci. Juventus, selalu tunduk di final. 

***

Kalau saat ini Lionel Messi selalu dikaitkan dengan Cristiano Ronaldo, di era Buffon, ia selalu dikaitkan dengan Iker Casillas, kiper yang menjaga kehormatan Real Madrid. Sulit untuk menyebut siapa yang lebih hebat dari keduanya. Yang jelas, keduanya sama-sama punya kemampuan di atas rata-rata, sama-sama punya kepemimpinan yang luar biasa, sama-sama menjadi simbol ketangguhan pertahanan negaranya.

Bedanya, Casillas justru ter(di)singkir(kan) dari cinta pertamanya. Baktinya selama hampir 25 tahun seolah tak berbekas. Sang pelatih, merasa tak cocok dengan Casillas. Padahal, apa yang kurang dari Casillas? Juara Spanyol? Sudah. Juara Eropa? Sudah. Bersama timnas, Casillas juga juara dunia.


Hal senada juga sejatinya terjadi pada Buffon. Para pelatih datang dan pergi ke Turin, tapi tak ada yang berani mencopotnya dari posisi nomor satu. Ada aura yang kelewat besar yang membuat Buffon selalu berdiri di bawah mistar. Sejak musim 2011/2012, Buffon selalu mencatatkan di atas 30 pertandingan di liga. Padahal, seiring waktu berjalan, usianya semakin menua.

Dari perbandingan di atas, jelas rasanya kalau gelar juara Liga Champions, yang tak pernah dimenangi Buffon, bagaikan buih di lautan; karena buat penggemar, mungkin juga buat klub, kesetiaan-lah yang membuatnya tak akan pernah tergantikan. Karena, tak semua orang menikah dengan cinta pertama, bukan?

"Selama bertahun-tahun, aku mencari tahu apa yang mendorongku tetap bermain. Pertarungan di dalam diri memberiku motivasi yang lebih kuat. Kalau aku memenangi Liga Champions, aku akan merasa kosong, pikiran itu berkecamuk dalam benakku. Seorang kiper mestilah masokis. Sebagai peran, ia seperti wasit. Dia punya kekuatan untuk mengontrol, tapi cuma bisa kebobolan, tak bisa mencetak gol, dan mesti kuat menahan hinaan yang terus menerus," tutup Buffon.