jtv-ep-45-masa-sulit-juan-cuadrado-di-italia

JTV EP. 45: MASA SULIT JUAN CUADRADO DI ITALIA


Oleh: Frasetya Vady Aditya

Nama Juan Cuadrado dikenal luas karena penampilan impresifnya bersama timnas Kolombia di Piala Dunia 2014. Bersama dengan James Rodriguez, Cuadrado menjadi senjata penting Kolombia bisa melaju hingga babak perempat final.

Saat itu, Cuadrado masih berkostum Fiorentina. Namun, enam bulan setelah Piala Dunia, Chelsea tertarik merekrutnya dengan mahar 23,3 juta paun. Sial buat Cuadrado karena penampilannya di Chelsea bahkan tak sebagus saat ia membela Fiorentina. Kecepatannya di sisi kanan lapangan seakan tak berarti. Cuadrado dianggap kesulitan untuk beradaptasi dengan sepakbola Inggris.

Pada 25 Agustus 2015, Cuadrado dipinjamkan ke Juventus dengan nilai satu juta euro. Sempat kembali ke Chelsea semusim kemudian, Juventus pun memperpanjang peminjamannya menjadi tiga tahun.


Tentu bukan tanpa alasan Juventus memperpanjang masa peminjaman Cuadrado. Dengan skema 3-5-2, Cuadrado yang biasa ditempatkan di sayap kanan, mampu mendalami perannya. Ia bisa menjadi kunci serangan balik Juventus. Saat bertahan, ia pun bisa diandalkan untuk mematikan serangan sayap lawan.

Di Juventus, peran Cuadrado kian dibutuhkan. Tim JTV pun melakukan wawancara khusus bersama pemain kelahiran 26 Mei 1988 ini.

"Aku lahir di sebuah desa kecil bernama Medelin di Kolombia. Di sana pula aku bermain untuk Medelin," jelas Cuadrado. 

"Aku memulai karier sebagai seorang fullback. Tapi itu hanyalah sementara karena dua fullback yang biasa bermain reguler tengah mengalami cedera. Jadi itu adalah sesuatu yang genting buat  tim (untuk mendapatkan fullback baru). Dan itu aku bermain dengan fantastis."

Meski mencetak gol dalam debutnya sebagai seorang fullback, tapi Cuadrado tak merasa kalau itu adalah posisi yang benar-benar pas untuknya. Cuadrado selalu ingin maju ke depan saat tim melakukan serangan, sesuatu yang agak sulit dilakukan fullback, karena ia punya tanggung jawab untuk bertahan. Selain itu, Cuadrado juga tak suka-suka amat dalam bertahan.

Namun, Cuadrado tak menyesali momen tersebut. Itu malah sesuatu yang bagus, karena selain mendapatkan pengalaman bermain sebagai fullback, Cuadrado pun mendapatkan menit bermain yang lebih banyak, yang membuatnya mendapatkan perhatian.

Kurang dari dua tahun di Independiente Medellin, Cuadrado langsung hijrah ke Italia dengan membela Udinese. Saat itu, usianya masih 21 tahun. Karena sepakbola adalah bagian dari dirinya yang lain, Cuadrado tak merasa takut karena di usia yang begitu muda sudah merantau beda benua. Ia malah merasa senang.

"Karena saat masih muda, Anda memiliki amat banyak mimpi. Kepindahan itu adalah langkah yang besar buatku. Itu seperti mimpi yang menjadi kenyataan," ucap Cuadrado.


Cuadrado merasa kalau waktunya semasa membela Udinese amatlah fantastis sekaligus sulit. Salah satunya karena Cuadrado tak mengerti bahasa Italia. Namun, hal tersebut terbantu dengan kehadiran sang manajer, Francesco Guidolin, yang dianggap Cuadrado mampu mengelola tim dengan baik.

"Dia adalah manajer yang keras, tapi dia benar-benar menolongku. Aku tak khawatir datang ke Italia. Meskipun aku tak banyak dapat menit bermain saat datang ke sini. Faktanya, aku lebih banyak menghabiskan waktu di bench. Tapi dalam pikiranku, aku membuat banyak kemajuan dengan sekadar datang ke sini," ungkap Cuadrado.

Banyak duduk di bangku cadangan sempat membuat Cuadrado merasa kesulitan. Pasalnya, di Kolombia, ia hampir selalu bermain, sementara di Italia, ia bahkan tak bermain sama sekali.

"Aku selalu percaya pada diriku sendiri. Dan pada akhirnya, semua terbayarkan," kata Cuadrado.

***

Wawancara eksklusif selengkapnya dengan Juan Cuadrado, bisa Anda saksikan hanya di JTV dengan berlangganan Supersoccer TV. aftarkan akun Anda sebagai member SupersoccerTV untuk mendapatkan akses menyaksikan JTV (Klik  di sini untuk mendaftar). Bagi Anda yang telah terdaftar sebagai member Premium atau Premium HD, saksikan video-video menarik lainnya di sini.

Selain wawancara dengan Cuadrado, JTV Episode 45 juga menyangkan highlight semifinal Liga Champions saat Juventus menghadapi AS Monaco. Selain itu, ada pula gol-gol yang dicetak Juventus ke gawang Torino yang akan mereka hadapi pada akhir pekan ini.