juara-piala-dunia-u-20-akankah-masa-depan-timnas-inggris-cemerlang

JUARA PIALA DUNIA U-20, AKANKAH MASA DEPAN TIMNAS INGGRIS CEMERLANG?

Hari Minggu kemarin, secara mengejutkan, Inggris berhasil menaklukkan Venezuela untuk menjuarai Piala Dunia U-20. Ini menjadi pertama kali bagi Inggris memenangkan turnamen dan juga pertama kali bagi mereka memenangkan event sepakbola global sejak menjuarai Piala Dunia tahun 1966. Hasil ini memicu banyak komentar penuh semangat dari generasi emas lainnya - bukan generasi emas pertama, seperti David Beckham, Paul Scholes, Steven Gerrard, Frank Lampard, Rio Ferdinand, Sol Campbell dan Michael Owen yang tak pernah memenangkan trofi apapun, baik di level junior ataupun senior - namun kemenangan ini sesungguhnya telah menunjukkan salah satu inti dari permasalahan dalam permainan Inggris. 

Hingga Inggris berhasil mengalahkan Italia di semifinal, tidak ada seorang pun yang benar-benar menaruh perhatian - bagaimanapun juga, Inggris memang tidak pernah berhasil dalam turnamen di level junior. Sebagai sebuah negara, ada kecenderungan ketika melihat sepak bola level junior dengan tingkat kecurigaan: jika mereka memang bagus, lalu pertanyaan datang, mengapa mereka tidak bermain untuk tim senior?

Saya berada di Kolombia saat Piala Dunia U-20 tahun 2011. Turnamen ini dimenangi Brasil yang tampil dengan pemain lini tengah seperti Casemiro, Willian, Oscar dan Philippe Coutinho, namun hanya ada sedikit ketertarikan di Inggris. Di turnamen ini, Inggris mengambil 36 pemain. Beberapa di antaranya memang benar-benar cedera namun sebagian besar ditarik oleh klub mereka karena melihat tidak ada gunanya mengirim bintang muda mereka melintasi samudera Atlantik untuk bermain di ketinggian Medellin atau dalam kelembaban Cartagena saat mereka bisa menikmati liburan musim panas, bersantai untuk musim yang akan datang.

Brian Eastwick, manajer tim U-20 Inggris, terbatasi dalam apa yang bisa dia lakukan, namun mampu mengatur timnya dengan baik, pencapaian hasil imbang 0-0 melawan Argentina, Korea Utara serta Meksiko dan hingga memastikan diri ke Babak 16 Besar sebagai tim urutan ketiga terbaik. Kembali ke Inggris dimana ada banyak ejekan: intinya, wartawan yang tidak hadir di Kolombia bertanya, pergi ke sebuah turnamen dan bermain sepak bola negatif seperti itu? Bagaimana hal tersebut bisa membantu anak-anak kita berkembang?

Ada dua jawaban. Pertama, kecuali jika tim Anda memiliki kualitas seperti Spanyol tahun 2010 atau Jerman Barat pada tahun 1990, begitulah cara Anda memenangkan turnamen. Lihatlah Portugal di Euro musim panas lalu: mereka menang bukan karena memiliki skuad terbaik tapi karena mampu memaksimalkan sumber daya mereka. Mampu bertahan dengan baik saat berada di bawah tekanan, sanggup menyesuaikan diri di beragam kondisi, itu adalah aset kunci.

Dan yang kedua, saat Anda kehilangan 36 pemain, apa yang Anda harapkan? Ini bukanlah tim terbaik U-20 Inggris, atau bahkan terbaik kedua atau terbaik ketiga. Ini adalah yang terbaik keempat dan bahkan mungkin juga tidak. Persepakbolaan level muda tak pernah dianggap serius. Inggris akhirnya tumbang 1-0 dari Nigeria di Babak 16 besar.

Jadi, apa yang sudah berubah? Bagaimana Inggris mampu memenangkan turnamen yang mereka remehkan enam tahun silam? Yang benar adalah mereka tetap masih meremehkannya. Sampai mereka benar-benar menjuarai turnamen, U-20 tidak pernah menjadi berita utama. Tetap saja, tidak seorangpun merasa yakin atas kesuksesan ini (sebagian, mungkin, karena mengalahkan Venezuela tidak seheboh jika, katakanlah, mengalahkan Jerman atau Brasil).

Sebagian besar pemain-pemain ini tidak begitu akrab di telinga dan itulah kuncinya. Sekarang, klub senang dengan membiarkan pemain mereka untuk tampil di turnamen karena mereka juga tidak mengantisipasi untuk menggunakannya musim depan. Jika mereka merasa lelah dengan klub dimana mereka dipinjamkan, jadi untuk apa? Dari sebelas pemain yang masuk starting di final, hanya empat pemain yang menjadi starter di pertandingan Premier League. Dari pemain-pemain tersebut, 13 kali tampil sebagai starter di Premier League dan 30 kali sebagai pemain pengganti. Sembilan dari pertandingan Premier League tersebut, tiga pemain berasal dari Everton, lainnya Lewis Cook yang bermain untuk Bournemouth. Skuad ini juga berisi tiga pemain yang namanya terdaftar di Chelsea, dua dari Liverpool dan dua dari Tottenham: hanya saja mereka sama sekali tidak pernah diberi kesempatan tampil.

Dominic Solanke mencetak empat gol dan meraih Golden Ball sebagai pemain terbaik. Setidaknya, sekarang, sudah ada komentar tentang dirinya di Chelsea, tentang betapa berbakatnya, tentang ketajamannya. Pada musim 2013-14, dia mencetak 20 gol dari 25 pertandingan untuk tim U-18 Chelsea. Namun pada musim panas ini, dia dijual ke Liverpool karena tidak pernah mendapatkan kesempatan tampil di pertandingan liga. Dia baru akan genap berusia 20 tahun pada bulan September nanti, salah satu talenta muda paling cemerlang dalam persepakbolaan Inggris, namun dia belum pernah bermain di pertandingan liga Inggris, pengalaman liga sejauh ini adalah 25 pertandingan liga Belanda ketika dipinjamkan ke Vitesse pada musim 2015-16 lalu.

Ini adalah konsekuensi atas struktur klub super modern. Tim besar akan menimbun bakat. Chelsea memiliki 45 pemain yang mereka pinjamkan musim lalu. Mereka adalah rumah pengolahan pemain muda yang bisa mendapatkan keuntungan, tapi juga terjadi pemborosan alami yang luar biasa. Inilah masalah terbesar dalam pengembangan pemain muda Inggris: tidak memproduksi pemain, mengantarkan mereka ke tim utama serta membantu menjembatani kesenjangan dari prospek luar biasa mereka untuk menjadi pemain sepakbola sebenarnya.