kali-ini-tidak-ada-sejarah-tercipta-di-camp-nou

KALI INI, TIDAK ADA SEJARAH TERCIPTA DI CAMP NOU


Oleh: Bryan Barcelona

Sejak melakoni comeback epik saat melawan Paris Saint-Germain bulan lalu, ada banyak poster berukuran besar yang berada di luar Camp Nou bertuliskan, ‘Selamat datang di Camp Nou, sejarah terukir di sini.” Namun nyatanya, tidak ada sejarah yang tercipta pada dini hari tadi—setidaknya sesuai dengan ekspektasi Barcelona, karena mereka hanya bisa bermain imbang tanpa gol melawan Juventus dan tereliminasi dari Champions League.

Manajer Barcelona, Luis Enrique menginginkan anak asuhnya menampilkan ‘malam magis’ di depan pendukungnya sendiri, namun performa buruk saat melawat ke Turin benar-benar terlalu merugikan mereka. Bahkan hanya sekadar untuk mencetak satu gol sekalipun, Barcelona masih kesulitan dan membuat Juventus masih melewatkan 531 menit tanpa kebobolan di Champions League.

Prediksi lima gol dari Luis Enrique untuk membuat Barcelona lolos ke babak selanjutnya sejatinya terdengar cukup memungkinkan. Mereka tidak pernah kehilangan kesempatan di depan gawang, tapi penyelesaian akhir yang buruk mengacaukan segalanya. Lionel Messi punya banyak kans untuk mengubah hasil pertandingan, tapi uniknya, Gianluigi Buffon justru tidak banyak bekerja keras untuk menyelamatkan mistar gawangnya. Juventus pada akhirnya tidak remuk redam seperti perkiraan banyak orang ketika menghadapi Barca yang ultra-ofensif. Performa Gigi, Bonucci, dan Chiellini terlalu berkualitas untuk bisa membiarkan Bianconeri berada pada situasi seperti yang dialami PSG. Mereka tahu apa yang akan mereka lakukan, dan nyatanya mereka berhasil; menjadi tim pertama yang tidak terkalahkan dari skuat asuhan Luis Enriqe di Camp Nou pada babak 16 besar. Tahun ini, sangat mungkin menjadi milik Massimiliano Allegri di Eropa.

Sempat diragukan bakal setenang itu di Camp Nou, Juve hanya butuh lima menit untuk membuktikan bahwa mereka tidak akan kacau balau seperti yang dialami PSG. Mereka berani menekan dengan baik, bahkan berhasil mencuri peluang lewat sontekan Gonzalo Higuain, sekaligus membuat Barcelona kembali menyesuaikan pola untuk bertahan dan menjaga jala gawang Ter Stegen agar tidak kebobolan. Di lain sisi, anak asuh Luis Enrique mendapatkan apa yang mereka mau: baik dari penguasaan bola atau kreasi peluang. Untuk sejenak, publik Camp Nou merasa bahwa comeback melawan Juventus bakal terdengar masuk akal, sampai akhirnya mereka menyadari sendiri bahwa ekspektasi itu terdengar sangat tidak beralasan ketika menghadapi tim sekaliber Juventus.

Juve memang tidak membuat Barcelona gagal mencuri kesempatan, mereka hanya membuat Barcelona tidak bisa mengkonversi rentetan peluang tersebut untuk menjadi gol. Namun pada saat bersamaan, mereka juga mengirim sinyal ancaman yang merepotkan Gerard Pique dan Samuel Umtiti sebagai pemain terakhir di lini pertahanan Barcelona. Tuan rumah juga membuat satu kesalahan mendasar, karena mereka tidak mencetak gol setidaknya sampai turun minum. Voli Neymar menyamping, sepakan Sergi Roberto dan Ivan Rakitic masih jauh dari sasaran meski mendapatkan jarak tembak yang cukup strategis. Buffon baru membuat penyelamatan perdana ketika Messi melepas tembakan ke sudut kanan gawang Juventus, dan penyelamatannya kembali disambut pria asal Argentina tersebut namun sayang sepakan keduanya hanya bisa mengenai samping jala Juventus.

Di babak kedua, Barcelona membuat sebuah pertaruhan dengan menanggalkan sisi kiri pertahanan mereka untuk membuat lini serang mereka semakin agresif. Pilihan ini harus dibayar dengan serangan balik yang diluncurkan oleh Juan Cuadrado, namun sepakannya masih melebar tipis dari mistar gawang Barcelona. Neymar juga dibuat frustasi karena ditempel ketat oleh Alves, dan ketika ia berhasil lolos dari penjagaan, penyelesaian akhir yang ia buat seringkali jauh dari target. Alcacer yang masuk menggantikan Rakitic pun nyaris tidak menghasilkan kontribusi terlalu besar untuk El Barca, Messi juga kembali mendapat peluang tapi sepakannya melambung jauh di atas mistar gawang, dan sepakan melengkung dari Sergi Roberto juga hanya melebar dari jangkauan Gigi Buffon. Di babak kedua, Barca berhasil melepas 12 tembakan, dan ironisnya, 11 di antaranya tidak menemui sasaran. Menit demi menit semakin bertambah, dan semakin menyadarkan suporter Barcelona bahwa comeback yang mereka harapkan sepertinya tidak akan kembali terulang.

Puja-puji akan kehebatan lini belakang Juventus memang benar adanya, dan aspek itulah yang membuat Barcelona gagal menjebol gawang tim tamunya di UCL untuk kali pertama sejak 2013 lalu—atau setelah 21 laga berselang di Camp Nou. Dani Alves sebelumnya mengatakan bahwa jika Juventus berhasil menaklukan mantan klubnya, itu berarti mereka telah menggugurkan tim terbaik dunia. Hal itu mungkin masih bisa mengundang perdebatan, tapi jujur saja, jika bukan Barcelona maka tim terbaik di dunia ini hanya mungkin disandang klub Spanyol lainnya, Real Madrid.

Tiga trofi Champions League terakhir menjadi milik Barca dan Real Madrid. Jangan lupakan pula Atletico Madrid yang menggenapi slot lima dari enam tim yang bermain di final pada kurun waktu tersebut. Pada 2014/2015, Juve menjadi satu-satunya tim di luar Spanyol yang menembus final untuk kali perdana sejak Bayern menaklukan Dortmund di partai puncak pada 2013 lalu. Dengan lolosnya duo-Madrid, bukan tidak mungkin bahwa final Champions League kali ini bakal mempertemukan klub dari La-Liga (lagi). Klub yang paling mungkin merusak hegemoni tersebut adalah Juventus, dan mereka berhasil memenuhi ekspektasi itu dini hari lalu.

Di pertemuan perdana, mereka menunjukkan kualitas menyerang yang sesungguhnya lewat sokongan Paulo Dybala dengan dua gol bersarang ke gawang Ter Stegen pada babak pertama, yang kemudian ditutup sempurna dengan sundulan Chiellini setelah kedua tim turun minum. Di Camp Nou, mereka menampilkan atribut tradisional mereka yang terkenal luar biasa solid untuk urusan menjaga daerah pertahanan sendiri. Mereka memang terbukti perkasa di jantung pertahanan, dan punya catatan mengesankan dengan hanya menderita dua gol dari 10 penampilan di Champions League musim ini. Mereka belum kebobolan lagi sejak melewati fase grup.

Juventus jelas memiliki pengalaman dan mental untuk menjadi jawara Eropa musim ini, namun yang tidak kalah pentingnya, mereka punya ambisi khusus yang selama ini sering mengganjal klub. Mereka belum memenangi Champions League lagi sejak 1996, dan rasa penasaran mereka makin menjadi-jadi karena takluk secara tragis pada 2003 dari Milan, serta skuat treble Barcelona pada 2015 lalu. Mereka telah membuktikan segalanya di level domestik, dan tahun ini adalah saat paling tepat untuk memajukan langkah mereka selanjutnya di level internasional.
Selamat datang kembali di level elit Eropa, Bianconeri.