melihat-gagasan-gagasan-baru-untuk-sepakbola

MELIHAT GAGASAN-GAGASAN BARU UNTUK SEPAKBOLA

Sepakbola pada dasarnya adalah olah raga konservatif, jadi tidaklah mengherankan jika proposal yang kita saksikan minggu ini mendapat pertimbangan dari IFAB, badan yang mengatur the laws of the game, telah memicu kemarahan. Begitulah yang selalu terjadi, sejak abad kesembilan belas dengan perubahan aturan offside di tahun 1925 hingga aturan backpass di tahun 1992, semuanya memiliki dampak positif yang cukup radikal di dalam pertandingan.

Namun, bagaimana dengan proposal kali ini? Yang paling mencolok, mungkin, adalah ide tentang waktu pertandingan, daripada bermain dua kali 45 menit plus injury time, akan menjadi dua kali 30 menit saja dengan waktu akan berhenti setiap bola berada di luar permainan. Tentu saja uji coba yang benar-benar tepat sangat diperlukan, tapi sulit untuk melihat sisi negatifnya di sini. Dua alasan paling jelas adalah hal tersebut bertentangan dengan tradisi yang sudah ada ini mungkin akan menyebabkan perusahaan TV membaginya untuk memasukkan iklan tambahan. Jawabannya adalah masing - masing, bahwa tradisi tidak bisa dipertahankan semata-mata untuk kepentingan tradisi, dan hal tersebut akan cukup mudah bagi badan pembuat aturan untuk menetapkan aturan dalam menjual hak siar bahwa tidak boleh ada iklan di tengah pertandingan.

Sepak bola akan selalu menyeimbangkan antara tuntutan olahraga dan menjaga integritasnya di satu sisi serta kebutuhan dalam menghibur penonton di sisi lain. Tidak membuang-buang waktu, memastikan bola selalu dalam permainan untuk jangka waktu tertentu, ini masuk akal. Ini bisa mendorong sepak bola menjadi lebih baik, membuat tim yang lebih baik akan memenangkan pertandingan. 


Saat ini, bola dimainkan sekitar 57 hingga 58 menit di setiap pertandingan di Premier League dan dua sampai tiga menit lebih sedikit di la Liga, dimana kecenderungannya adalah waktu untuk injury time jauh lebih sedikit. Menjadi standarisasi di seluruh dunia, menutup kecurangan, bisa menjadi hal positif.

Proposal lainnya adalah goal kick. Goal kick seharusnya tidak harus meninggalkan area kotak penalti, dan harus bisa mendorong permainan passing. Faktanya, Anda akan bertanya mengapa peraturan goal-kick harus meninggalkan area tersebut. 

Gagasan bahwa pemain bisa mengambil free-kick dan corner dengan sedikit curang namun sebenarnya adalah cara yang masuk akal untuk mengatasi tactical fouling. Aturan ini berlaku di hockey, dimana mereka telah membuat langkah besar, permainan menjadi lebih mengalir dan mengurangi set-play dalam beberapa tahun terakhir. Yang menjadi tidak nyaman adalah kombinasi peraturan tersebut dengan peraturan baru yang memungkinkan free-kick diambil dengan bola masih bergerak. Pasti ada cara untuk mengetahuinya saat free-kick sudah diambil atau belum: di dalam hoki, pemain yang terkena foullah yang harus menghentikan bola. Bisa sesederhana itu, namun tanpa semacam pengakuan bahwa bola sedang dimainkan lagi, hasilnya bisa membingungkan. Tetap saja, hal tersebut adalah hal detil yang bisa diupayakan di dalam uji coba: yang menggembirakan adalah bahwa pembuat peraturan sedang melakukan upaya agar permainan menjadi lebih mengalir serta mengurangi keuntungan dari pihak yang melakukan foul.

Pemberian gol penalti untuk bola yang mengenai tangan di garis gawang akan menjadi langkah radikal mengingat sepak bola belum pernah memiliki konsep seperti itu. Namun mungkin menjadi masuk akal dalam kasus yang sangat spesifik, untuk mencegah insiden seperti handball Luis Suarez saat melawan Ghana di perempatfinal Piala Dunia 2010 dimana dia jelas - jelas mendapatkan keuntungan dengan melakukan kecurangan tersebut.

Dua proposal besar lainnya jauh lebih dipertanyakan. Lagi-lagi mengikuti aturan hockey, ada saran bahwa bola harus mati jika kiper berhasil menggagalkan penalti, ini akan menghilangkan kemungkinan rebound. Idenya adalah untuk mencegah pelanggaran, dan memang benar bahwa ada sesuatu yang sedikit janggal dengan fakta bahwa pengambil penalti bisa menyerang ketika rebound jika bola lepas dari kiper, namun tidak berlaku jika mendapatkan bola kembali dari menerpa tiang gawang. Yang menjadi bahaya adalah ada keuntungan yang hilang dari pihak penyerang, tim tersebut tentu saja dirugikan. 

Kemudian ada gagasan untuk memberikan penalti karena menerima backpass, hal ini tampaknya terlalu keras sebagai bentuk hukuman atas pelanggaran teknis. Mengingat aturan backpass dibutuhkan subjektif, akan mengarah kepada wasit yang memberikan kelonggaran: indirect free-kick adalah bentuk hukuman yang sangat berbeda. Lagi pula, siapa yang mengambil backpass secara sengaja? Kiper menangkap backpass adalah pelanggaran yang cenderung disebabkan karena godaan serta kebingungan, dan untuk keduanya adalah indirect free-kick di dalam kotak penalti - yang mari kita hadapi saja - menjadi sangat menyenangkan karena jarang-jarang terjadi. Sepertinya menjadi bentuk hukuman yang sangat pas.

Secara umum, meski proposal-proposal ini belum tentu bisa menjadi aturan, tampak positif, menunjukkan kemauan dari para pembuat peraturan untuk mengatasi sinisme dan membuat aliran sepakbola menjadi lebih mengalir.