narasi-singkat-tentang-john-terry

NARASI SINGKAT TENTANG JOHN TERRY


Oleh: Rifqi Miftah Ardhi


22 tahun pengabdian John Terry di Chelsea akhirnya akan berakhir. Setelah menjalani diskusi yang panjang dengan klub, bek berusia 36 tahun tersebut memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya lagi dan akan meninggalkan Stamford Bridge musim panas mendatang. Datang sebagai remaja pada usia 15 tahun, Terry akan meninggalkan Chelsea dengan status sebagai pemain dengan gelar terbanyak sepanjang sejarah klub--termasuk empat gelar Premier League dan masing-masing satu Liga Champions dan Europa League.

Memang, mungkin di akhir karirnya Terry justru lebih dekat dengan kontroversi. Mulai dari perselingkuhannya dengan mantan kekasih Wayne Bridge hingga kasus rasis pada Anton Ferdinand, label buruk seakan menempeli Terry pada beberapa tahun terakhir karirnya. Belum lagi insiden unik pada final Liga Champions dimana kala itu ia tidak bermain namun muncul dengan seragam lengkap kala Chelsea menerima trofi Si Kuping Besar. Namun, satu fakta yang tidak bisa dipungkiri adalah Terry merupakan salah satu bek terbaik yang pernah bermain di Premier League.

Premier League memang tidak pernah kehabisan bek-bek handal. Pemain lokal seperti Tony Adams, Sol Campbell, Jamie Carragher, dan Rio Ferdinand hingga ekspatriat macam Nemanja Vidic, Sami Hyypia, hingga Jaap Stam semua pernah meramaikan bursa bek terbaik Premier League. Tentu adalah hal yang sangat wajar untuk menyandingkan Terry dengan nama-nama di atas. Selain karena gelar bergengsi dengan jumlah cukup banyak yang ia menangkan, Terry nampaknya memang tidak bisa dipisahkan dari kata 'tangguh' yang memang menjadi ciri khas permainannya.


Hal berikutnya yang membuat Terry begitu hebat tentu adalah berbagai rekor yang ia catatkan. Yang paling mengesankan adalah ia akan meninggalkan Chelsea dengan raihan 40 gol di Premier League. Jumlah tersebut merupakan jumlah terbanyak dibanding bek lainnya di Premier League. Menghitung bahwa beberapa bek Premier League seperti Leighton Baines maupun Ian Harte juga sering dipercaya mengeksekusi tendangan bebas, tentu raihan Terry tersebut terasa kian spesial. Pemain yang ia lewati untuk mendapatkan rekor tersebut adalah mantan bek Everton, David Unsworth, yang mengemas 38 gol di Premier League.

Dari musim 2000/01 hingga musim 2015/16, Terry selalu tampil di lebih dari 25 pertandingan per musimnya. Tanpa menghitung musim ini, catatan Terry diantara musim di atas dimana ia tampil paling sedikit adalah 27 kali pada musim 2012/13. Pada musim 2014/15 dimana Chelsea menjadi juara, Terry bahkan bermain di tiap menit pertandingan Chelsea di Premier League--ia menjadi pemain kedua setelah Gary Pallister melakukan hal yang sama di musim 1992/93 dan 1994/95. Dalam 16 musim terakhir pun ia selalu berhasil mencetak gol di Premier League.

Rasanya, tulisan ini akan menjadi cukup panjang bila terus membahas tentang rekor dan raihan epik Terry lainnya bersama Chelsea. Namun, yang kita lupakan mungkin adalah pengumuman mendadak mengenai keputusannya. Disaat musim tengah memasuki momen krusial, tiba-tiba Terry mengeluarkan pernyataan akan pergi. Tentu ini bak petir di siang bolong. Ya, memang ia tampil sangat sedikit musim ini dibawah Antonio Conte. Namun tentu ini akan memiliki efek tersendiri bagi skuat Chelsea pada sisa pertandingan mereka musim ini.

Kritik yang sama pun datang dari dua kolega Terry, Gary Neville dan Carragher. "Berita tentang perginya Terry terjadi pada waktu yang cukup aneh. Aku tidak mengerti itu sama sekali," ungkap Neville. "Aku tidak yakin untuk siapa ia melakukan itu, mungkin baginya itu adalah momen yang tepat, namun aku tidak yakin akan itu." Senada dengan Neville--sesuatu yang jarang tentunya--Carragher pun juga menyatakan keraguannya. "Waktu pengumuman ini sangat aneh mengingat hasil dari pertandingan terakhir mereka (kalah dari Manchester United. Fakta bahwa ia cukup cepat dalam mengeluarkan pengumuman ini mungkin ia akan bermain untuk klub lain musim depan. Aku berharap ia akan tetap di Premier League," ungkap Carragher.

Memang, umumnya pemain mengumumkan ia akan hengkang dengan status Bosman pada bursa Januari atau mungkin pada awal musim. Tentu itu untuk mempermudah kepindahannya pada akhir musim atau bursa transfer terdekat. Apa yang dilakukan Terry ini bisa memberikan dua efek berbeda. Yang pertama, ini bisa menjadi motivasi bagi Chelsea untuk memberikan persembahan terakhir yang indah bagi Terry. Efek kedua, yang tentu ingin mereka hindari, tentu adalah hilangnya konsentrasi mereka karena akan kehilangan sosok pemimpin di tim. Padahal, kini Chelsea memasuki periode musim yang krusial dan bisa menentukan keberhasilan mereka memenangkan gelar.


Kembali ke Terry dan keputusannya. Di usia 36 tahun, wajar bila Conte sudah jarang memainkannya. Masih ada Gary Cahill, David Luiz, Kurt Zouma, Cesar Azpilicueta, Nathan AKe, hingga Ola Aina yang kerap dimainkan sebagai bek tengah. Belum lagi pemain muda seperi Matt Miazga, Andreas Christensen, Michael Hector, dan Kenneth Omeruo yang akan kembali musim depan. Memang, keberadaan Terry mungkin bisa menjadi tutor yang tepat untuk mereka. Di sisi lain, hal itu juga menjadi negatif karena pelatih cenderung akan mempercayai Terry sebagai pelapis dibanding pemain muda yang masih hijau. Bila memang Terry memikirkan pemain muda Chelsea, tentu ia akan semakin dikenang sebagai seorang legenda.

Captain, leader, legend. Rasanya label itu memang pantas disematkan pada Terry. Ditengah kontroversi yang sempat menjangkitinya, fans dan klub Chelsea tetap membela sang pemain atas dasar balas budi setelah apa yang ia berikan. Kini, Terry akan menjalani bulan-bulan terakhirnya bersama Chelsea. Entah apa yang akan terjadi ke depan tentu tidak ada yang tahu. Untuk saat ini, hal yang bisa kita pegang adalah Chelsea tentu akan merindukan sosok seperti Terry kelak musim depan dan musim-musim berikutnya.