perubahan-gaya-bermain-di-liga-liga-eropa

PERUBAHAN GAYA BERMAIN DI LIGA-LIGA EROPA

Beberapa waktu lalu majalah olah raga terbesar Eropa, Sport Bild, mempublikasikan sederet statistik menarik. Atas dasar statistik tersebut bisa disimpulkan adanya beberapa perubahan gaya bermain yang sangat menarik untuk saya jabarkan di sini. Memang statistik secara spesifik merajuk pada Bundesliga, namun saya percaya perkembangan yang bisa kita simpulkan berdasarkan data-data tersebut bersifat across the board, mencakup semua liga top Eropa. 

Perubahan-perubahan yang Berlabel Signifikan

Salah satu perubahan yang paling penting adalah semakin ditekankannya gaya permainan ball possession. Memang dalam beberapa tahun belakangan ball possession telah menjadi trend, namun musim lalu menunjukan bahwa perkembangan gaya bermain ball possession menjadi semakin ekstrim. Shooting menjadi semakin sedikit karenanya. Memang menurunnya jumlah shooting  (29,1 tendangan/pertandingan pada tahun 2008 secara bertahap terus berkurang menjadi 24,8 tendangan/pertandingan pada musim lalu) juga dikarenakan berkurangnya space and time/ ruang gerak bagi pemain, walau demikian tidak bisa dipungkiri bahwa arahan pelatih untuk tidak melakukan shooting apabila tidak betul-betul yakin, jelas berpengaruh pada jumlah tembakan ke arah gawang lawan. Penekanan pada penguasaan bola membuat pelatih terus melatih  pemain untuk tidak asal melakukan shooting ataupun crossing. Kebanyakan pelatih  lebih memilih menunggu datangnya kesempatan crossing ataupun shooting yang lebih matang ketimbang membiarkan pemain bermain dengan resiko tinggi. Alhasil jumlah crossing di Bundesliga musim lalu hanya 17,6 crossing/pertandingan. Artinya setiap tim rata-rata hanya melesatkan sekitar 9 umpan crossing dalam sebuah pertandingan. Bandingkan dengan 10 musim lalu saat jumlah crossing/pertandingan masih berjumlah 25,7 atau sekitar 13 crossing per tim. Kita bisa belajar banyak dari trend ini. Di Liga Indonesia crossing dan shooting masih dilakukan secara berlebihan sehingga terjadi banyak situasi dimana sebuah tim kehilangan bola dengan tidak perlu. 

Perubahan menarik lainnya adalah semakin marak digunakannya formasi dengan 3 pemain belakang (lihat diagram). Formasi 343 menggantikan formasi populer 4231. Tiga musim lalu hanya 5x sistim 3 pemain belakang digunakan. Musim baru lalu mencatat formasi 343 digunakan 161x! Mengapa perubahan besar ini terjadi?  Well, banyak pelatih, terutama pelatih tim-tim relatif lemah, memilih bermain dengan 3 pemain center back ditambah dengan 2 wing back demi meredam daya serang tim-tim besar. Dalam sistim 343 ada kejelasan tentang siapa saja pemain yang tinggal di belakang saat melakukan serangan, yakni tiga center back, sementara kedua wing back menjadi pemain sayap saat melakukan serangan. 

Masih menyangkut formasi, musim lalu menunjukan banyaknya formasi yang dipakai para pelatih dalam satu pertandingan. Formasi 442 bisa berubah menjadi 532 setelah pertandingan baru berlangsung 10 menit, misalnya. Setelah turun minum 532 kembali berubah menjadi 433, dan sebagainya. Berbagai variasi formasi digunakan demi meredam perubahan taktis lawan. Bisa juga perubahan formasi dilakukan berdasarkan perubahan skor atau guna memperbaiki kelemahan tim. 


Perkembangan Menarik Lainnya

Karena permainan ball possession semakin ditekankan, situasi 1v1 semakin berkurang. Bola disirkulasi diantara pemain dengan menggunakan satu sampai tiga sentuhan saja sehingga situasi 1v1 jarang terjadi. Selanjutnya, karena berkurangnya situasi 1v1 otomatis jumlah pelanggaran yang terjadi juga berkurang. Logis. Musim lalu jumlah foul yang terjadi rata-rata 28/ pertandingan. Bandingkan dengan tahun 2002 saat rata-rata terjadi 42 pelanggaran per pertandingan. Sebuah perkembangan positif yang juga terjadi dikarenakan semakin banyak hadirnya eksekutor tendangan bebas kelas dunia. Pemain diarahkan untuk tidak banyak melakukan pelanggaran demi menghindari situasi bola mati yang kerap menjadi pemecah kebuntuan dalam sebuah pertandingan. 


Trend lainnya yang bisa kita perhatikan bersama adalah kembali diandalkannya penyerang bertipe real nine. Baik di Inggris, Jerman, Perancis, Italia, bahkan sedikit banyak juga di Spanyol, penyerang bertipe false nine yang flexible dan banyak menyentuh bola, diganti dengan striker false nine yang memiliki ciri khas old school: jarang menyentuh bola namun banyak mencetak gol. 


Perubahan-perubahan yang cukup menarik bukan? Sepak bola memang dinamis dan ever changing. Pelatih dan pemain dituntut untuk terus berevolusi bila tidak ingin ketinggalan dalam persaingan yang terus meningkat. 


Let's see what changes and new trends next season will bring. I can't wait. 


Salam Super Soccer,

@coachtimo