piala-fa-ajang-pertaruhan-pep-guardiola-sebagai-manajer-city

PIALA FA, AJANG PERTARUHAN PEP GUARDIOLA SEBAGAI MANAJER CITY


Oleh: Handy Fernandy

Manchester City pada musim ini memiliki dua keputusan yang cukup mengejutkan. Pertama adalah melakukan branding dengan mengubah logo klub dari gambar burung elang menjadi perahu yang lebih identik karena Kota Manchester sebagai kota pelabuhan. Sedangkan yang kedua adalah “melabuhkan” pelatih kenamaan dunia, Josep ”Pep” Guardiola untuk menjadi juru taktik bagi The Citizens.

Kedatangan pelatih Spanyol ke City tentunya dimaksudkan agar klub yang berdiri pada tahun 1880 ini kembali merajai semua kompetisi di Inggris dan menaikan nilai klub di level Eropa. Berbekal kesuksesan Pep Guardiola di dua kompetisi besar Eropa dan dengan 21 gelar yang diraihnya tersebut, manajemen The Citizens pun menaruh harapan tinggi kepada pria yang identik dengan kepala plontos tersebut.   

Namun hingga musim hampir berakhir, City justru melempem. Hingga di pekan ke-32, mereka justru terjerembab di peringkat keempat di ajang Premier League. Mereka pun baru mengumpulkan 64 poin sejauh ini yang membuat mereka memiliki perbedaan cukup signifikan dengan Chelsea yang saat ini memuncaki klasemen dengan 11 poin. 


Dengan sisa 6 pertandingan lagi, sulit rasanya kesebelasan yang bermain di Etihad Stadium itu bisa menjuarai Liga Inggris musim ini. Mungkin lolos ke Liga Champions musim depan bisa menjadi target yang lebih realistis

Pep Guardiola sendiri dikenal sebagai pelatih yang dikenal sukses menjuarai Liga Champions di mana ia berhasil mengantarkan Barcelona juara di ajang tersebut sebanyak dua kali. Namun, prestasi tersebut nampaknya belum mampu menular kepada punggawa City musim ini. Mereka harus gagal di babak 16 besar lantaran kalah produktivitas gol dari Monaco—yang mampu mencetak lebih banyak gol tandang.

Padahal bila menilik skuad yang dimiliki oleh City musim ini dapat dikatakan lebih dari cukup untuk mengejar gelar juara. Mulai dari John Stones, Leroy Sané, Gabriel Jesus, lkay Gündogan, hingga Claudio Bravo pun didatangkan untuk mempermudah kerja Guardiola dalam menerapkan filosofinya. 

Namun sepertinya pelatih yang ketika berkarir sebagai pesepak bola tersebut adalah berposisi sebagai bek ini ternyata  memerlukan waktu yang lebih banyak waktu untuk beradaptasi dengan sepak bola Inggris yang dikenal sebagai kompetisi paling kompetitif di dunia.

Kepindahan seorang bernama Pep Guardiola ini ke Inggris memang didasari keingannya yang ingin membuktikan diri untuk menerima tantangan baru. Menurutnya, kalo tidak ia mungkin masih melatih di Nou Camp—kandang Barcelona.

“Saya datang (ke Inggris) untuk belajar. Itulah mengapa saya pindah. Jika saya tidak merasa seperti itu, saya mungkin masih akan berada di Barcelona pada saat ini,” ungkap Guardiola.

Menjelang akhir musim, mungkin hanyalah gelar Piala FA yang bisa menyelamatkan reputasi besar Guardiola agar tidak dianggap gagal total. Pasalnya hingga kini City mampu mencapai babak semifinal dan akan bertemu dengan Arsenal  pada Minggu (23/04/2017) nanti. Kemenangan menjadi hal mutlak bagi pelatih yang mengakhiri karir profesionalnya sebagai pesepak bol di klub Dorados de Sinaloa tersebut untuk membuktikan kualitasnya.