rivalitas-chelsea-tottenham-yang-akan-terus-berkembang

RIVALITAS CHELSEA-TOTTENHAM YANG AKAN TERUS BERKEMBANG


Oleh: Rifqi Miftah Ardhi


Setelah kerap hanya meramaikan 10 besar Premier League, Tottenham kini justru menjelma menjadi salah satu tim yang berpeluang untuk merenggut gelar liga. Sementara tim-tim yang biasa berada di atas seperti Manchester United, Manchester City, Arsenal, dan Liverpool tengah berusaha untuk mencari konsistensi mereka, Tottenham berhasil merangsek ke dua besar dan kini menjadi satu-satunya tim dengan kemungkinan terbesar untuk menggusur Chelsea dari puncak.

Musim lalu, pada pertandingan antara kedua tim di Stamford Bridge, benih-benih rivalitas antara kedua tim sudah nampak terlihat. Hasil imbang 2-2 yang menjadi hasil akhir pun memastikan Leicester City mengangkat trofi Premier League musim lalu. Namun, pertandingan itu sebenarnya bernilai lebih dari itu. Beberapa insiden--hingga terjadi total 12 kartu kuning dimana sembilan diberikan untuk Tottenham--termasuk tentunya kala Mousa Dembele mencolok mata Diego Costa atau Erik Lamela yang 'tidak sengaja' menginjak Cesc Fabregas. Pertandingan kedua tim sejak saat itupun tidak pernah lagi sama.


Sebenarnya, rivalitas kedua tim sudah berumur cukup panjang. Pemain-pemain seperti Jimmy Greaves, Terry Venables, hingga Glenn Hoddle yang pernah membela kedua klub ini tentu tahu tentang hal itu. Setelah kerap lebih inferior dibanding Tottenham, kehadiran Roman Abramovich pun merubah hal itu. Selain memperpanjang rekor tanpa kemenangan Tottenham di Stamford Bridge hingga 27 tahun, chant mengenai Willian yang menolak pindah ke Tottenham pun kian menjadi bumbu yang memperpanas rivalitas kedua tim. Dan, puncaknya adalah keberhasilan mereka menjegal Tottenham meraih gelar musim lalu yang dirayakan dengan sukacita bak mereka yang menjadi juara.

Memang, rivalitas antara Chelsea dan Tottenham bukanlah rivalitas yang begitu panjang dan bersejarah besar. Tanyakan saja pada fans Tottenham siapa rival mereka, maka mayoritas akan menjawab Arsenal. Pun dengan Chelsea yang mungkin juga menganggap Arsenal sebagai pesaing terbesar mereka. Namun, kiblat kekuatan di London perlahan mulai bergeser. Berdasarkan sebuah survey yang diadakan pada 2012 oleh Football Fans Census, fans Chelsea mulai menganggap Tottenham sebagai rival utama mereka, lebih dari Arsenal dan United. Rasanya, pertemuan kedua tim di White Hart Lane maupun Stamford Bridge sudah cukup menjawab itu.

Mengatakan bahwa rivalitas kedua tim ini akan menjadi yang terbesar di Inggris mungkin masih akan jauh dari realisasi. Perlu adanya rezim supremasi yang ditunjukkan oleh dua klub ini secara konsisten--seperti United dan Arsenal pada tahun 90an. Atau, setidaknya ada dua ikon di masing-masing klub yang bisa membuat atmosfer pertandingan selalu panas--seperti Patrick Vieira dan Roy Keane. Namun, supremasi dua tim di klasemen nampaknya adalah sesuatu yang sulit mengingat Premier League selalu menyajikan pertandingan enam besar yang panas.

Dari sisi kepelatihan, baik Mauricio Pochettino dan Antonio Conte nampaknya memang saling menghormati satu sama lain. Sebagai dua pelatih yang masih 'hijau' di persaingan papan atas Premier League, jalan rivalitas kedua pelatih ini nampak masih panjang dan bisa mengarah kemanapun. Namun, sejauh ini nampak keduanya masih bisa menahan emosi untuk satu sama lain. Hal berbeda justru tampak ketika melihat ke jajaran yang lebih tinggi, dimana Abramovich dan Daniel Levy yang nampak kurang menyukai keberadaan satu sama lain--terlebih dalam urusan bursa transfer.

Akhir pekan ini, kedua tim pun akan kembali bertemu. Meskipun tidak akan menentukan di klasemen Premier League, pertandingan kedua tim musim ini akan menentukan siapa yang berpeluang untuk memenangkan FA Cup musim ini. Dengan hanya berjarak 90 menit dari laga final, tentu baik Chelsea maupun Tottenham sama-sama ingin mencatatkan trofi musim ini. Dan, hasil dari pertandingan ini kelak--apapun itu--jelas akan kian membuat rivalitas antara keduanya semakin berkembang.