superioritas-jerman

SUPERIORITAS JERMAN

Tidak bisa dipungkiri, dalam hal  sepak bola tidak ada negara lain di dunia yang prestasinya sestabil Jerman. Ada beberapa negara yang layak dikategorikan power house sepak bola dunia, namun hanya Jerman yang prestasinya stabil. Prestasi Jerman betul-betul mentereng: 4x juara dunia ('54,'74, '90, 2014), 4x runner up Piala Dunia ('66, '82, '86, 2002), serta 4x meraih tempat ke 3 Piala Dunia ('34, '70, 2006, 2010). Selain itu Jerman 3x meraih juara Piala Eropa ('72, '80, '96), 3x runner up Piala Eropa ('76, '92, 2008), 3x meraih peringkat ketiga Piala Eropa bersama tim lain ('88, 2012, 2016), serta juara Piala Konfederasi 2017. Wow, sampai capek saya menulisnya! Dari catatan diatas terlihat jelas Jerman hampir selalu berada di level atas dunia. Saat negara-negara lain berjaya untuk beberapa waktu lalu tenggelam, Jerman secara konstan berada di atas. Bagian ke 3 dari trilogy ulasan mengenai Jerman ini akan membahas mengenai faktor-faktor yang mendasari pencapaian Jerman yang begitu superior itu. 

What is going on, how can they do that?

Saya super yakin bahwa sepak bola adalah cermin mentalitas bangsa. Maksud saya begini. Permasalahan ataupun kelebihan yang bisa ditemukan dalam dunia sepak bola suatu negara biasanya berbanding lurus dengan permasalahan ataupun kelebihan yang ada dalam negara tersebut secara keseluruhan. Mentalitas, misalnya, atau kualitas pelatih (=pendidikan), kualitas wasit (=hukum), kualitas federasi (=aparat negara) biasanya sangat mirip satu dengan yang lain. Nah, mentalitas bangsa Jerman berfungsi sebagai "pupuk" yang menyuburkan prestasi timnas Jerman. Kemauan untuk bekerja keras, tidak gampang patah arang bila tidak berhasil dan sebaliknya tidak gampang puas saat berhasil, serta keinginan untuk terus belajar, bisa dikatakan membentuk sebuah ladang pertanian yang subur dimana talenta bermain sepak bola bisa bertumbuh dengan pesat. 

Federasi Jerman tentu juga sangat berperan. Berbagai kebijakan serta program kerja yang dibuat federasi Jerman sangat efektif dalam membina sepak bola Jerman. Cara pemain dipantau, diseleski, lalu kemudian ditempatkan di akademi klub-klub profesional Jerman terbukti sukses menciptakan generasi emas demi generasi emas. Akademi setiap klub profesional minimal harus memenuhi kriteria yang ditetapkan DFB. Federasi juga membantu dengan menyediakan kompetisi yang tersusun rapi serta, super penting, memberikan support dengan cara membentuk pelatih dengan standar yang tinggi. Saat saya mengambil lisensi UEFA B di Jerman ada sekitar 200 pelatih yang melamar ikut kursus kepelatihan. Dari sekian banyak calon pelatih hanya 30 yang diterima. Dari 30 peserta lisensi B hanya 20 yang lulus. Yang boleh melanjutkan ke jenjang lisensi A hanya sekitar  10 orang. Saat saya mengambil lisensi A prosesnya juga sama. Alhasil lisensi yang dimiliki seseorang benar-benar mencerminkan kualitasnya sebagai pelatih. Bukan hanya itu, kursus kepelatihan yang diadakan secara sering dan terus menerus memastikan banyaknya pelatih berkualitas yang tersedia di seluruh pelosok Jerman. Hal ini super penting mengingat pelatih berfungsi sebagai ujung tombak kemajuan sepak bola. Kualitas program latihan, pengetahuan soal gizi, motivasi, dan lain sebagainya, yang didapatkan pemain, sangat bergantung pada kualitas pelatih yang membimbingnya. 

Membandingkan prestasi Loew

Berbicara soal pelatih yang berkualitas, sosok Loew layak dibicarakan. Pelatih super sukses ini memulai kiprahnya sebagai asisten Klinsmann. Ia dipuji Klismann sebagai tactican yang ulung. Menurut Klisnmann ia baru benar-benar paham sistim 442 setelah dijelaskan oleh Loew. Joachim Loew kemudian "menggantikan Klinsmann yang mengundurkan diri setelah kegagalan di Piala Dunia 2006. " By the way, kutipan dari wikipedia tersebut menggambarkan betapa terbiasanya dunia dengan kesuksesan Jerman sehingga meraih tempat ke tiga dianggap sebagai sebuah kegagalan. 

Loew kini telah menjadi pelatih Jerman sebanyak 151 pertandingan. 101 pertandingan diantaranya berhasil dimenangkan oleh Loew. Itu berarti  Loew memegang rekor untuk most wins dan winning percentage (66,8%) diantara semua pelatih yang pernah menukangi timnas Jerman. Wow, hats off Loew! Saya pribadi juga sangat menghargai keiningan Loew untuk terus berbenah dan mejadi lebih baik lagi. Sebagai contoh, sebelum Piala Eropa yang baru lalu timnas Jerman luar biasa dalam hal mencetak gol namun di saat yang sama juga sering kebobolan. Loew pun berjanji memperbaiki pertahanan Jerman. Terbukti dalam 14 pertandingan sejak Piala Eropa Jerman hanya kebobolan 7 gol. Respect! 

Loew bukan satu-satunya pelatih hebat yang pernah menukangi timnas Jerman.  Sepanjang sejarah timnas Jerman bisa dikatakan sangat dimanjakan dengan keberadaan pelatih-pelatih top. Untuk saya pribadi, Herberger, Schoen, Derwall, Beckenbauer, dan Loew layak mendapatkan status "pelatih legendaris". Dibawah ini Anda bisa bandingkan pencapaian masing-masing pelatih super berkualitas Jerman dari masa ke masa. 


Superioritas pembinaan ala Jerman tidak bisa dipungkiri. Kapan federasi kita menirunya? 

Salam Super Soccer,

@coachtimo