tak-semata-mata-salah-wasit

TAK SEMATA-MATA SALAH WASIT


Oleh: Rifqi Miftah Ardhi


Kalah nampaknya bukanlah sesuatu yang tercetak dalam kode genetik Bayern Munchen. Konsepsi pribadi mereka sebagai tim pemenang nampak terpatri sangat kuat sehingga hal-hal dramatis yang kerap mereka alami lebih mengarah pada kesalahan demi kesalahan yang mereka lakukan daripada superioritas yang ditunjukkan pihak lain. Tak lama setelahnya pun kerap ada perubahan besar-besaran dalam tubuh klub, entah dari jajaran direksi, pelatih, hingga pemain. Semua yang dianggap tidak layak akan dibebastugaskan.

Namun, hal berbeda justru terlihat pasca pertandingan melawan Real Madrid. Seperti yang dinyatakan oleh Mats Hummels, Bayern kalah oleh sesuatu yang berada diluar kendali mereka. Ya, wasit pertandingan itu, Viktor Kassai, mendapat banyak sorotan setelah pertandingan. Alasannya tidak lain adalah karena keputusannya yang dianggap berat sebelah sehingga Bayern kesulitan untuk mengimbangi permainan. Namun, bukan berarti kesalahan sepenuhnya ada di pundak Kassai.


Pun bila wasit bisa bersikap netral 100% dan selalu meniupkan peluit tiap ia meliht hal yang tidak ia sukai, tentu tidak semua tim bisa memanfaatkan kesempatan tersebut. Tim-tim besar justru kerap 'memusingkan' wasit dengan pergerakan mereka di wilayah menyerang--entah itu melalui pergerakan sulit maupun membingungkan hakim garis dalam situasi offside. Hal ini juga kerap menjadi isu ketika pertandingan berakhir, meskipun kadang keputusan wasit tersebut bisa dibilang benar. Yang justru sering terjadi adalah tim yang lebih inferior cenderung terpaksa melakukan pelanggaran demi pelanggaran untuk menghentikan yang lebih superior.

Berkata Madrid diuntungkan wasit mungkin agak sedikit berat sebelah. Gol Robert Lewandowski dari titik putih pun cenderung terlalu 'halus' untuk ukuran penalti. Begitu juga gol bunuh diri Sergio Ramos dimana pemain Bayern terlebih dulu berada dalam posisi offside. Yang lebih kontroversial mungkin adalah kartu merah Arturo Vidal. Sekilas terlihat tackle pemain asal Chile tersebut mengenai bola dan bersih. Namun, jika ditilik kembali, Vidal nampak sedikit mengangkat kakinya dan menyebabkan Marco Asensio terjatuh. Bahkan, Vidal pun bisa dibilang cukup beruntung karena bisa saja ia terusir lebih cepat pada menit ke-48.

Memang, fokus utama publik lebih kepada beberapa keputusan Kassai yang menguntungkan Madrid. Casemiro yang beberapa kali melakukan pelanggaran hanyalah mendapat peringatan dari Kassai. Banyak yang berpendapat bahwa seharusnya Casemiro bernasib sama dengan Vidal dengan menuju ke ruang ganti lebih awal. Begitu juga dua gol Ronaldo yang berbau offside. Bahkan bukan hanya bau tetapi itu terlihat sangat jelas. Saking jelasnya, Carlo Ancelotti meminta pada UEFA untuk mempertimbangkan menggunakan teknologi replay sebagai alat bantu wasit.

Menyalahkan wasit mungkin tidak akan membuat Bayern menjadi 'penjahat' saat ini. Namun, ada baiknya mereka juga mengevaluasi penampilan pemain yang mereka miliki. Tentu, bila pemain yang dipercaya untuk tampil bisa menunjukkan yang terbaik, dengan 10 pemain pun sebenarnya Bayern bisa memaksakan pertandingan hingga adu penalti. Ancelotti pun juga harus mengevaluasi ulang taktiknya--dua kali kalah dari pelatih yang ia 'didik' tentu merupakan pertanda gaya bermainnya yang sudah mulai terlihat oleh calon lawan.