video-assistant-referee-var-dan-ancaman-terhadap-esensi-sepakbola

VIDEO ASSISTANT REFEREE (VAR) DAN ANCAMAN TERHADAP ESENSI SEPAKBOLA

FIFA sebagai badan sepakbola dunia dan IFAB tentu saja terus berupaya untuk mencari solusi terbaik demi sepakbola yang semakin menarik. Beberapa peraturan baru mulai diujicobakan di ajang Confederations Cup minggu ini. Sebagai orang Chile, tentu saja saya ikut bersorak ketika Eduardo Vargas membuat gol di akhir babak pertama di pertandingan melawan Kamerun. Semua orang di Chile pun merasakan sikap yang sama, kami merayakannya. Namun keputusan wasit Damir Skomina menganulir gol Vargas membuat ada kesan kejanggalan. Sebelumnya, kejadian serupa sudah terjadi di pertandingan Portugal kontra Meksiko dimana gol Pepe dibatalkan pengadil asal Argentina Nestor Pitana.

Kita tidak sedang membahas apakah Vargas offside atau tidak. Bukan itu. Kejanggalan yang saya maksud di sini adalah kesan keseruan sepakbola menjadi hilang. Ada bagian yang selama ini dinikmati penonton yang terpotong. Bayangkan ketika setiap gol, kita semua harus menunggu apakah gol tersebut benar-benar sah atau tidak. Bagaimana jika terjadi sebuah gol, dan pihak yang kebobolan merasa ada yang janggal dan meminta wasit untuk mereview via video asisten wasit (VAR) tersebut. Selebrasi harus menunggu kepastian dari wasit?

Mungkin saya termasuk orang yang cenderung lebih menikmati sepakbola gaya klasik seperti aksi Gol Tangan Tuhan Diego Maradona. Kita bisa pastikan, tak akan ada lagi gol seperti itu sejak era VAR. Aksi guling-guling Jurgen Klinsmann di final Piala Dunia tahun 1990 bisa saja berujung kartu kuning untuk dirinya andai VAR sudah berlaku. 

Peraturan baru dibuat tentu saja setelah mengkaji banyak kritikan tajam. Wasit memang selalu menjadi pihak pertama acap kali kejadian kontroversial terjadi. Spanyol dan Italia dua negara  yang merasa paling kesal dengan sikap pengadil di Piala Dunia Jepang - Korea Selatan tahun 2002 silam. Menjadi lucu jika Graham Poll sampai mengeluarkan tiga kartu kuning untuk Josip Simunic di pertandingan Kroasia melawan Australia pada Piala Dunia Jerman 2006 lalu. Memang sudah lama ide untuk menggunakan video untuk melihat kejadian yang tak tercover wasit dan pembantu wasit. 

Sepakbola adalah permainan dari kombinasi skil, taktik, juga kecerdasaan bermain termasuk kelicikan. Manusia selalu punya seribu ide untuk mencari keuntungan. Dan di dalam sepakbola, hal seperti ini justru menjadi bumbu sedap. Saya yakin, dunia masih dan akan tetap terbagi dua, pihak yang menyambut positif ujicoba VAR ini serta pihak yang menaruh keraguan. Untuk pihak terakhir, seperti saya, bukan berarti menolak mentah-mentah pendekatan teknologi agar blunder-blunder yang acap terjadi bisa dieliminir, namun melihat sepakbola sebagai permainan yang penuh keseruan dan drama, esensi sepakbola bisa terancam. 

Kembali lagi, wasit menjadi aktor kunci dalam menerapkan peraturan baru ini. Jangan sampai, pertandingan menjadi rusak jika sedikit-sedikit wasit harus berlari ke pinggir lapangan melihat rekaman video sebelum mengambil keputusan. Esensi dari keseruan sepakbola yang menghipnotis manusia di jagad raya ini bisa berkurang.