Belum Ada Perubahan Berarti Di Arsenal

Hanya berselang 24 jam setelah publik disuguhkan kemenangan sensasional 4-0 Paris-Saint Germain atas Barcelona, hasil fantastis kembali hadir pada babak 16 besar Liga Champions. Arsenal yang bertandang ke Allianz Arena harus pulang dengan tangan hampa. Tidak sekedar tangan hampa, Bayern Muenchen seakan memupus harapan Arsenal untuk lolos ke putaran berikutnya dengan skor 5-1.

Arjen Robben sempat membawa Bayern unggul sebelum Alexis Sanchez menyamakan kedudukan. Hilangnya Laurent Koscielny dari lineup pada babak kedua nampaknya membuat Bayern lebih leluasa menyerang. Hasilnya, empat gol berhasil mereka berondong ke gawang David Ospina dan meminimalisir--nyaris menghapus--peluang Arsenal untuk mengakhiri raihan buruk mereka yang tidak pernah lolos dari babak 16 besar sejak tahun 2012.

berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion,

Masalah pertahanan nampaknya menjadi salah satu yang cukup sering melanda Arsenal. Pasalnya, dalam enam musim terakhir termasuk musim ini, Arsenal kebobolan tiga gol atau lebih pada empat dari enam pertandingan leg 1 babak 16 besar Liga Champions. Bila menilik sejarah pun, hasil ini sangat jauh dari kemungkinan Arsenal mencapai putaran berikutnya. Sepanjang sejarah babak gugur kompetisi Eropa, belum ada tim yang tertinggal empat gol atau lebih pada leg pertama dan berhasil lolos ke putaran berikutnya.

Kemudian, masalah performa pemain pun nampak cukup mengganggu Arsenal. Yang paling nyata terlihat mungkin adalah kala Alex Oxlade-Chamberlain yang memarahi rekan setimnya yang nampak tidak bergairah dalam mengejar bola. Hal inipun sempat menjadi viral dan tentunya menunjukkan bahwa mental pemain Arsenal nampak belum siap untuk menghadapi tim-tim raksasa Eropa.

Dua pemain yang dikritik cukup hebat seusai pertandingan ini adalah Francis Coquelin dan Mesut Oezil. Coquelin dianggap menjadi titik lemah Arsenal dan berkali-kali kalah duel dengan pemain tengah Bayern. Ia juga tidak bisa menggantikan peran Aaron Ramsey dan Santi Cazorla dalam mentransisi dari bertahan menjadi menyerang. Alhasil, Arsenal pun terkadang kesulitan untuk membangun serangan.

Lain lagi dengan Oezil. Gelandang asal Jerman ini lagi-lagi dikritik karena penampilannya yang cukup mengecewakan. Melawan tim besar musim ini, Oezil memang kerap gagal memberikan kontribusi maksimal. Dari tujuh tim besar yang dihadapi Arsenal sejauh musim ini berjalan--Chelsea, Manchester United, Tottenham, Manchester City, Liverpool, dan Bayern--Oezil hanya menciptakan total 14 peluang. Itu berarti hanya ada 1.67 peluang per pertandingan yang diciptakan gelandang asa Jerman ini--sesuatu yang membuat opini fans dan publik akan kehadiran Oezil di Arsenal saat ini menjadi terbelah.

Masalah di atas mungkin sudah menjadi masalah Arsenal sejak beberapa musim lalu. Namun, dalam momen-momen penting seperti pertandingan melawan Bayern, kegagalan Arsene Wenger untuk menemukan solusi masalah tersebut tentu harus dibayar mahal. Selain dengan terancam kembali gagalnya Arsenal melaju lebih jauh di babak gugur Liga Champions. Lebih jauh lagi, hasil inipun mungkin akan menjadi alasan kuat bagi Arsenal untuk mengakhiri kerjasama mereka dengan Wenger pada akhir musim ini bila tak kunjung ada peningkatan dan perbaikan.