Preview Genoa vs AS Roma: Ujian Pertama AS Roma di Tahun 2017

berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion,

Giornata 19 akan menjadi ujian perdana bagi Ivan Juric pasca ditinggal dua penggawa pentingnya. Berkat performa yang cukup mengesankan sampai paruh musim, Thomas Rincon berhasil menarik perhatian Juventus untuk memboyongnya ke Turin awal pekan lalu. Sementara striker andalan mereka, Leonardo Pavoletti diboyong oleh Napoli untuk mengisi pos striker murni yang ditinggalkan Arkadiusz Milik sejak sejak Oktober silam. Mereka berdua mungkin belum menyandang status sebagai pemain bintang, tapi memiliki peran penting dalam laju perfoma Genoa di Serie-A dalam beberapa musim terakhir.

Sialnya, mereka justru akan kedatangan AS Roma yang baru saja mendapat suntikan tenaga karena beberapa pilarnya sudah bisa kembali merumput. Meski tidak bisa diperkuat oleh Mohamed Salah karena harus mengikuti AFCON yang akan dimulai pekan depan, tapi performa El Shaarawy yang kembali mengesankan membuat Spalletti tidak akan kebingungan untuk meracik komposisi lini depan. Di atas kertas, setidaknya Roma bisa menyajikan karakter ofensif terbaiknya akhir pekan nanti.

Menengok ke belakang pada akhir musim 15/16, bentrok kedua tim di Luigi Ferraris ini menyajikan keseruan sampai menit akhir. Unggul 2-1 sampai menit ke-65 berkat kerjasama Rincon dan Pavoletti, Genoa akhirnya dipaksa untuk tunduk berkat gol susulan Totti pada menit ke-77 lewat sepakan bola mati, dan sontekan El Shaarawy tiga menit jelang laga berakhir. Dari komposisi skuat, kedua tim tidak banyak melakukan perubahan ekstrem sejak pertemuan tersebut, kecuali gaya bermain dari masing-masing tim yang sedikit berubah haluan.

berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion,

Kala itu Genoa masih ditangani Gasperini dengan karakter 3-5-2 miliknya yang memiliki kecenderungan defensif dan memainkan tempo lambat. Sementara di kubu tim tamu, mereka masih belum memainkan karakter bermain efektif yang diinginkan Spalletti. Sisa-sisa peninggalan Rudi Garcia masih kental di dalam tim AS Roma. Roma mencoba untuk tidak lagi menempatkan filosofi bermain indah nan atraktif sebagai karakter utama, melainkan berganti dengan efektivitas serangan demi hasil paling berarti: menang. Spalletti terang-terangan mengaku kalau anak asuhnya harus menjadikan Juventus sebagai prototipe mereka, sebab Si Nyonya Tua selalu bisa menemukan cara untuk mendulang poin sempurna meski tampil tidak meyakinkan. Cara ini terbukti sukses, karena dari 5 laga terakhir mereka berhasil mendulang 10 poin dengan ‘hanya’ mencetak 6 gol dan kebobolan 2 gol saja.

Yang juga pantas menjadi sorotan dari pertemuan kedua tim akhir pekan nanti ini, adalah bentrok masing-masing sayap. Lucas Ocampos dan Nicola Ninkovic yang mengapit Giovanni Simeone di lini depan, sementara di kubu Roma ada El Shaarawy dan Diego Perotti yang siap memberikan servis terbaik untuk Edin Dzeko. Trisula milik Genoa memang baru mencatatkan 9 gol dan 3 assists sampai paruh musim ini, tapi Roma punya titik lemah lewat serangan dari sisi sayap dan penetrasi dari pemain dengan kualitas teknik mumpuni. Ada celah yang sering terbuka lebar antara bek sayap Roma dengan striker sayap mereka di kedua sisi, sementara De Rossi dan Strootman tak cukup cepat untuk segera menutup ruang terbuka saat Roma sedang kehilangan bola. Spalletti harus mewaspadai arus serangan tuan rumah yang besar kemungkinan akan melalui muara Laxalt-Ocampos atau Ninkovic-Lazovic dari sisi lapangan.

Tapi opsi serangan tuan rumah ini juga memiliki titik lemah yang seringkali menyusahkan mereka. Genoa sangat rawan kebobolan lewat skema serangan balik, karena hampir separuh pemain mereka memiliki karakter yang jauh lebih ofensif. Sementara itu, Roma dikenal sebagai salah satu tim dengan transisi serangan balik terbaik di Eropa sejak beberapa musim terakhir. Mereka memang seringkali teledor ketika kehilangan penguasaan bola, tapi ketika bola berhasil mereka ambil alih kembali, Radja Nainggolan dan rekan-rekannya sangat sulit untuk dihentikan. 72 persen arus serangan Roma dimulai dari sisi sayap, dan memilki pemain dengan akselerasi maksimum seperti Salah, Perotti, plus El Shaarawy akan memudahkan Roma untuk tetap memainkan pola permainan seperti itu.

Il Grifone juga bisa berharap pada Simeone yang kerap menunjukkan tajinya pada laga-laga penting. Apalagi pasca ditinggal Pavoletti ke Napoli, putra sulung manajer Atletico Madrid itu diharapkan bisa menjadi tumpuan Genoa untuk urusan menceploskan bola ke gawang lawan. Sejauh ini, ia menjadi pencetak gol terbanyak Genoa dengan lesakan 6 gol dari 16 laga. Ia memang tidak menghadirkan ancaman lewat duel bola udara seperti yang dilakukan Pavoletti, tapi Simeone bisa membuat Wojciech Szczęsny bekerja esktra lewat pergerakannya yang gesit di kotak penalti dan kegemarannya melakukan duel satu lawan satu. Meski belum memiliki penyelesaian akhir yang mematikan, performa pemuda 21 tahun itu nyatanya justru makin membaik dari waktu ke waktu. Apalagi, ia punya rekam jejak apik ketika membungkam tim raksasa di Luigi Ferraris, persis seperti yang ia lakukan kala 2 kali menjebol gawang Gigi Buffon pada akhir November lalu. Melawan Roma, bukan tidak mungkin kepercayaan diri melimpah akan kembali menyertai dirinya.

Saksikan laga giornata 19 antara Genoa versus Roma, eksklusif hanya di Supersoccer TV. Anda bisa menyaksikan seluruh pertandingan Serie A musim 2016/2017 dengan berlangganan Supersoccer TV (klik di sini untuk mendaftar).

berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion,