Sosok Pembeda itu Bernama Marko Pjaca

berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion,

“Ia akan menjadi tokoh protagonis untuk perjalanan Juventus di 2017,” ujar manajer Bianconeri, Massimiliano Allegri.

Disebut sebagai pemain yang diprediksi bakal membawa pengaruh untuk tim sekelas Juventus, tentu membuat semua orang berpikir bahwa pemain tersebut bukan sosok sembarangan. Hal ini bisa terasa semakin mengejutkan, tatkala mengetahui bahwa pemain yang mendapat kredit dari Allegri tersebut masih berusia 21 tahun dan baru mencatatkan 76 menit bermain di semua kompetisi sampai paruh musim.

Adalah Marko Pjaca, pemuda asal Kroasia yang digadang-gadang bakal memberikan angin segar untuk Juventus pasca pergantian tahun. Menyandang status sebagai salah satu prospek terpanas Eropa sejak 2 musim terakhir, Pjaca masih kesulitan untuk membuktikan kapasitasnya di Turin karena minim kesempatan bermain. Harus bersaing dengan nama mentereng seperti Gonzalo Higuain, Paulo Dybala, dan Mario Mandzukic untuk mendapatkan slot ujung tombak Juventus tentu bukan perkara mudah. 

Sialnya, ketika Allegri tidak memiliki banyak opsi di lini depan karena ketiga nama tersebut bergantian mengalami cedera, Pjaca juga harus menepi untuk alasan yang sama. Cedera lutut parah saat membela Kroasia membuat mantan penggawa Dinamo Zagreb itu absen bermain sejak awal Oktober lalu. Setelah melewati semester pertama 2016 dengan puja-puji di level klub dan tim nasional, Pjaca harus berbesar hati menutup semester kedua dari balik meja operasi.

Mari sedikit menengok ke belakang, untuk memahami kenapa keyakinan Allegri terhadap pemain terbaik Liga Kroasia 2015 & 2016 ini terasa masuk akal. Di usianya yang masih sangat muda, Pjaca sudah mencatatkan 145 laga dan 37 gol profesional di semua kompetisi pada level klub sebelum hijrah ke Juventus. Berbekal 4 trofi bergengsi bersama Zagreb, performa Pjaca di level klub berhasil mengantarkan dirinya ke level tim nasional. 12 penampilan bersama Vatreni berhasil ia torehkan sejak debutnya pada 2014. 

berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion,

Yang benar-benar membuat dirinya mendapat lampu sorot dari Eropa, adalah helatan Euro yang berlangsung di Perancis pertengahan 2016 lalu. Kroasia tampil memukau di babak penyisihan grup dan harus tersingkir secara mengejutkan dari Portugal—yang akhirnya keluar sebagai juara—pada babak 16 besar. 

Meski tidak berhasil melaju jauh, beberapa penggawa Kroasia berhasil menarik perhatian banyak klub-klub Eropa. Salah satunya adalah Marko Pjaca. Pjaca sempat diburu Inter, Milan, Napoli, Fiorentina, dan Liverpool. Hingga akhirnya tanda tangan Pjaca justru berlabuh di kertas kontrak Juventus dengan mahar 23 juta Euro.

Pjaca mungkin tidak menawarkan gelontoran gol dalam jumlah berjubel seperti yang dilakukan Gonzalo Higuain, tapi dirinya punya dimensi permainan yang akan meningkatkan kualitas performa tim manapun di seluruh Eropa. Coba tengok aksinya kala membawa Kroasia unggul 2-1 atas jawara bertahan Spanyol di hajatan Euro lalu. 

Pada laga yang berlangsung di Stade de Bordeaux itu, ia membuat lini serang Kroasia menjadi jauh lebih mematikan dari sisi sayap. 8 kali mencatatkan take-ons, 1 tembakan ke arah gawang, dan 1 kans emas untuk mencetak gol. Sama seperti yang biasa ia lakukan di level klub, Pjaca juga berulangkali merepotkan lini pertahanan lawan dengan kecepatan berlari dan kelihaian menggocek bola yang ia miliki. 

Bisa beroperasi sebagai sayap baik di sisi kanan maupun kiri, Pjaca mewarisi kebiasaan pemain di posisi serupa dengan melakukan cutting inside dari posisi melebar. Dari situ ia bisa tembakan atau mengkreasi peluang untuk rekan terdekatnya. Di beberapa kesempatan, Pjaca juga bisa ditempatkan sebagai attacking midfielder atau second striker. Dengan karakter bermain yang dinamis, gesit, dan memiliki kualitas teknik mumpuni, Pjaca punya keberanian untuk bermain direct, duel satu lawan satu dengan kiper, atau adu kecepatan berlari dengan bek lawan. Berulangkali ia mampu menyelinap ‘entah dari mana’ ketika garis pertahanan lawan terlihat lengah pasca kehilangan penguasaan bola.

Karakter ini jelas cocok dengan filosofi bermain milik Allegri. Sebab, baik dalam skema 3-5-2 atau 4-3-1-2 yang menjadi favoritnya, skema serangan baik lewat sisi sayap adalah senjata utama yang berulangkali merepotkan lawan-lawan mereka sejak 5 musim terakhir. Mereka mungkin tidak memainkan skema serangan balik seekstrem dan sekilat Napoli, Roma, atau Real Madrid, tapi transisi bertahan-menyerang yang mulus selalu berhasil mereka tampilkan pada momentum yang tepat. Alex Sandro, Lichtsteiner, Cuadrado, dan Dybala kerap menjadi tokoh sentral pada momen-momen serangan balik seperti ini, dan Pjaca juga diharapkan untuk menghadirkan servis serupa pada Si Nyonya Tua. 

Ia bisa bermain sebagai seconda punta dalam skema 2 striker bersama Higuain/Mandzukic, atau menyuguhkan opsi taktik anyar dalam kemasan 3 striker kepada Allegri. Mengapit satu striker murni bersama Dybala/Cuadrado di sisi sayap, komposisi ini digadang-gadang bisa menghadirkan kejayaan di Eropa persis seperti yang dilakukan Lippi bersama trisula Vialli-Del Piero-Ravanelli pada dekade ’90-an.

Selain itu, Allegri juga punya catatan bagus ketika menangani prospek muda berbakat. Mulai dari De Sciglio dan El Shaarawy ketika berada di Milan, sampai Paulo Dybala, Alvaro Morata, dan Paul Pogba dalam versi jauh lebih matang sejak kali pertama tiba di Turin pada 2,5 tahun lalu. Didukung rekam jejak pembinaan bibit muda dan opsi taktik yang makin bervariasi, Allegri diprediksi akan memberikan lebih banyak waktu bermain untuk Pjaca pada paruh musim kedua ini. 

Pekan ini, Marco Pjaca sudah kembali masuk ke skuat Juventus. Cedera yang dideritanya beberapa bulan lalu telah sembuh dan membuatnya mampu kembali tampil di lapangan. Allegri mungkin belum akan memberikan kesempatan Pjaca bermain sejak awal pertandingan. Namun dengan padatnya jadwal Juventus yang bermain di 3 kompetisi, bukan tidak mungkin Pjaca akan menjadi alternatif yang tepat saat pemain-pemain utama Juventus sedang tidak dalam kondisi prima.

Juventus pekan ini akan berhadapan dengan Bologna pada senin (09/01) dinihari nanti. Tidak salah jika Allegri sedikit memberikan kesempatan kepada Pjaca untuk menunjukan kemampuannya. Setidaknya di 20-30 menit terakhir pertandingan.

Pertandingan antara Juventus melawan Bologna akan disiarkan secara live dan ekslusif hanya di Supersoccer TV. Saksikan juga pertandingan-pertandingan serie A lainnya dengan mendaftarkan diri anda menjadi anggota Supersoccer TV (klik di sini untuk mendaftar).

berita bola,berita bola terkini,sepak bola,football manager super soccer,klasemen liga inggris, jadwal sepak bola,prediksi bola,liga inggris,liga champion,